RETAK



"Aku pikir, kamu memahami situasi dan perasaanku sekarang. Ternyata pendapatmu tidak seperti teman yang aku anggap dekat!" Penuh kecewa, Ajeng mengakhiri chatnya bersama Yuna pada aplikasi Whatsapp. Yuna tidak membalas. Ia tertegun dengan reaksi sahabatnya yang di luar dugaan itu. Ia tidak lagi mengenali Ajeng seperti yang dikenalnya dulu.

Rahajeng dan Yunandari bersahabat sejak lama. Ikatan persahabatan mereka sudah seperti kakak beradik.  Mereka dipertemukan pertama kali, pada sebuah kegiatan pelatihan fakultas di kampus yang sama. Ajeng senior Yuna saat itu, adalah pribadi yang menyebalkan dalam pandangan hampir semua adik-adik angkatan. Ia selalu menunjukkan senioritas yang tinggi. Tak pernah senyum, keras hati, dan jarang bicara. Akan tetapi kerap tegas jika untuk hal yang benar.

"Aduh... Aku lupa bawa pembalut, gimana nih?!" Ajeng panik. Yuna yang posisinya sedang berdekatan saat itu, menawarkan bantuan. "Saya bawa nih Kak, pakai aja." Sambil menyerahkan pembalut pada seniornya itu. "Terimakasih ya... Untung ada kamu." Yuna hanya tersenyum, dan mengangguk. Itu adalah pertemuan pertama mereka, dan pertama kali Ajeng bersikap normal menurut penilaian Yuna. Tidak judes, tidak seperti kesan yang diketahuinya selama ini, dan tidak menjaga jarak seperti layaknya senior.

Sejak kejadian itu, mereka makin akrab. Beberapa kali Ajeng memberi bantuan, dan selalu menjadi tempat Yuna bertanya banyak hal. Tentang mata kuliah. Tentang menyikapi tugas-tugas yang datang bersamaan. Tentang tips khusus memahami aturan main satu per satu Dosen setiap mata kuliah. Terutama Dosen yang terkenal "Killer". Sampai tentang informasi sewa tempat tinggal, lengkap dengan ukuran harga dan fasilitasnya.

Nasib yang sama sebagai anak rantau, membuat keduanya kerap bertukar pikiran. Tentang teman, keuangan, sampai persoalan mendalam seputar keluarga. Di mata Ajeng, Yuna adalah pendengar yang baik. Yuna yang usianya lebih muda dua tahun dari dirinya, kadang bersikap lebih dewasa melebihi usianya. Ia kerap menemukan solusi yang sebelumnya tidak pernah terpikir oleh Ajeng. Yuna juga tak pernah sungkan menegur dirinya bila sifat jeleknya timbul, seperti judes dan galak.

Tahun-tahun berlalu. Kedekatan mereka melahirkan sikap saling dukung, untuk segera menyelesaikan studi tepat waktu. Dan berhasil. Setelah itu, mereka pun berpisah. Kembali ke daerah masing-masing, menjalani kehidupan nyata. 

Sesekali, secara bergantian mereka berdua saling bertanya kabar, dan bicara banyak hal. Bertukar cerita tentang kesibukan masing-masing. Berbagi semua pengalaman, pahit, manis, lucu, atau mungkin memalukan yang membuat mereka berdua tertawa dalam sambungan telepon. Kebiasaan ini berlangsung selama beberapa waktu.

Sampai pada suatu masa, lama keduanya belum sempat lagi saling menyapa. Yuna sedang disibukkan dengan pekerjaan, dan persiapan pernikahan yang hanya tinggal beberapa bulan saja.

Tiba-tiba...

Yuna dikejutkan oleh pesan panjang Ajeng yang sangat meledak-ledak. Butuh waktu baginya mencerna situasi apa kira-kira yang sedang dihadapi sahabatnya itu. 

"Aku benci ayahku, Yuna... Benci!" Kalimat yang tidak biasa ini membuka obrolan mereka.

"Kak Ajeng apa kabar? Lama ya kita nggak ngobrol... Ada apa?" Yuna berusaha tenang. Berita tentang perceraian orangtua Ajeng membuatnya prihatin. Kali ini Yuna bahkan lebih banyak diam, hanya mendengarkan dan bertanya seperlunya saja. Jika bukan karena jarak, ingin sekali Yuna bersegera mendatangi Ajeng. Memeluk, dan membiarkannya menangis puas di bahunya. 

"Aku lelah Na..." Tulis Ajeng, putus asa.
"Iya kak, seandainya ada yang bisa aku bantu buat meringankan..." Hanya itu kalimat yang berhasil disampaikan. Selebihnya, mereka menatap layar ponselnya masing-masing. Tak ada yang mulai menulis apa pun lagi. 

"Kamu ada saran buatku Na...?" Akhirnya.
"Ada Kak, tapi..." Yuna ragu "Bilang aja Na!" Potong Ajeng. Yuna kemudian melanjutkan kalimatnya: "Simpan sedikit ruang untuk ayah, yang bukan perasaan benci ya Kak..." Ragu dan khawatir, Yuna mengucapkannya.

Benar saja, Yuna tersentak menerima reaksi Ajeng. Ia mengenal baik kedua orangtua dari sahabatnya ini, sehingga tidak sanggup menilai buruk karena prahara yang sedang mereka hadapi. Ajeng marah, mungkin dendam karena peristiwa ini. Namun, Yuna hanya berusaha memposisikan diri sebagai sahabat dan pendengar, bukan penilai. Ajeng marah besar, merasa dikhianati oleh sepenggal kalimat yang tidak siap ia terima. Sejak kejadian itu, Ajeng tidak pernah lagi menghubungi Yuna. Mungkin ia hanya perlu waktu memahami maksudku, begitu pikir Yuna. Dan masih berharap waktu akan menyembuhkan Ajeng, dan mereka bisa kembali menjadi sahabat baik seperti sebelumnya.

Comments

Popular Posts