TANGKAI PERTAMA

 


Bunga dan tanaman, adalah dunia baru yang 'dikenalkan' secara tidak langsung oleh ibu mertua kepada saya. Saya tidak tau, mana saja jenis tanaman yang suka minum, mana jenis yang tidak tahan jika langsung terpapar matahari, mana yang ngebo alias bandel, alias gampang diurus, sama sekali buta. Nah, dulu awalnya saya hanya menemani ibu mencabuti daun-daun yang mulai menguning. Hanya sekedar untuk basa-basi sambil menemani dan mengobrol ringan, karena bingung harus melakukan apa di antara tetanduran ini. Sementara ibu, menelisik satu per satu dengan detil apa yang kurang, mana yang perlu ganti pot, mana yang kena kutu, dan lain-lain. Setelah Ibu wafat sekitar empat bulan lalu, beberapa peninggalan berharga ini mulai layu, sebagian lainnya kering, dan mulai tidak beraturan lagi. Sayang sekali pikir saya kalau ini dibiarkan terus. Pelan-pelan saya mulai belajar mengenali. Belum banyak tau sih, dan belum banyak juga yang saya bisa lakukan sampai hari ini, selain hanya rutin menyiram setiap hari, atau dua hari sekali. Seadanya waktu yang tersedia untuk saya bisa melakukannya. Kadang malam hari, kadang pagi setelah shubuh. Suatu ketika, dulu, Ibu pernah bilang begini: "Tanduran kuwi koyo ingon-ingon, ngerti sopo sing ngopeni" (Tanaman itu sama seperti hewan peliharaan, dia bisa tau siapa yang merawat) semacam ngerti kalau disayang, begitu lah kira-kira. Malah Ibu juga pernah bilang, kalau bisa tanaman itu juga selalu diajak bicara. Sama seperti pecinta hewan kepada peliharaannya. Diperlakukan seperti anggota keluarga, seperti anak, ya sepantasnya memperlakukan makhluk bernyawa. Waktu itu saya hanya menanggapi dengan "ooh, nggih" saja, boleh dibilang sambil lalu lah. Entah ya, semua pesan-pesan itu tiba-tiba saja muncul sesekali, pada saat saya menyirami anggrek-anggrek ini. Dan saya pernah naikkan pot sambil spontan ngomong "Tumbuh ya, seger ya" (Pertama kaget..., ber 'eh' spontan) sambil senyum mengingat reaksi saya dulu. Ternyata Ibu benar. Kelompok kuncup ini tiba-tiba sudah mecungul entah sejak kapan. Pagi pertama masih kuncup semua dan ukurannya kecil-kecil. Pagi berikutnya, ukuran kuncup-kuncup ini mulai membesar. Berikutnya lagi, mulai mekar sedikit. Dan kuncup tertua sudah mekar maksimal seperti dalam foto. Baru kali ini saya merasakan sensasi luar biasa yang asing, tapi menyenangkan. Tinggal menunggu adik-adik kuncupnya menyusul nih, rasanya tidak sabar. Ini baru satu pot yang berbunga. Pot sebelahnya mulai juga bertambah sulur-sulur calon pijakan kuncup. Seperti sedang menanti anggota keluarga baru mau hadir... bahagia, senang, hehehe. Terimakasih Ibu, peninggalan ini sudah betul-betul mengajari saya rasa welas asih yang baru. Mudah-mudahan saya bisa dititipi ini semua dengan baik.

Comments

  1. Sy suka bangeet ngobrol sama tanaman ,, apalagi saat lihat muncul kuncup calon bunganya - langsung tak elus2 mb ,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai mbak hani....iya nih, saya baru ngerasain langsung sensasinya, menyenangkan 😍😍

      Delete
  2. kalau sdh senang berkebun pasti ketagihan, asik dan menyehatkan pikiran ... salam kenal mba

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal juga mbak...😘😘 baru pertama kali ini ngurus tanaman langsung jatuh cinta 😍

      Delete
  3. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  4. Gaya tulisannya menarik, seperti anggreknya, entah kapan aku bisa berkebun?! 😀 Salam kenal mb 🙏

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi....ini pertama kali mbak ria, masih meraba-raba juga tapi memyenangkan...makasih mbak😘

      Delete

Post a Comment

Popular Posts